Harga Gabah Petani Terus Melonjak, Bagaimana HPP

2,202 Kali Dilihat
Harga Gabah Petani Terus Melonjak, Bagaimana HPP

Sidrap, Infosiar.com — Harga pembelian gabah petani saat ini terus melonjak, sementara harga pembelian pemerintah (HPP) sangat jauh dari harga pembelian pengusaha pangan.

Dengan melonjaknya harga gabah ditingkat petani ini, tentu memberi harapan besar bagi mereka dalam meningkatkan kesejaheraan, khususnya masyarajat petani di daerah ini.

Pantauan dilapangan, para pengusaha pangan berlomba – lomba membeli gabah kering panen dari petani dengan harga sebesar Rp 6.500 per kg, sementara HPP sebesar Rp 5.000 per kg.

Tentu dengan selisih harga sejauh itu, masyarakat petani lebih cenderung menjual hasil produksi pertaniannya ke pengusaha dengan harga yang lebih tinggi ketimbang menjual ke pemerintah melalui Bulog didaerah ini.

Kepala Cabang Bulog Sidrap, Anwar Halim yang dikonfirmasi melalui ponselnya, Kamis (24/8/2023) membenarkan kondisi pembelian harga gabah petani saat ini alami lonjakan harga.

Dijelaskannya, naiknya harga penjualan gabah yang tergolong tinggi ini, berpengaruh terhadap harga penjualan beras dipasaran umum yang mencapai Rp 11.100 per kg, sementara pembelian Bulog
sebesar Rp 9.950 per kg.

“Kondisi ini tidak hanya terjadi di Sidrap, melainkan seluruh Indonesia dan bahkan ada daerah yang mencapai pembelian gabah petani sebesar Rp 7.000 per kg, sehingga sejumlah pengusaha penggilingan terpaksa harus gulung tikar akibat tingginya harga pembelian gabah petani,”ujar Anwar.

Sekedar diketahui, harga beras mengalami kenaikan ke level tertinggi dalam 15 tahun di tengah waswas terhadap suplai dunia setelah India menahan pengiriman beras.

Hal iru dipicu dengan cuaca buruk yang terjadi di kawasan Asia Tenggara dan telah berdampak pada produksi beras.

Menurut Thai Rice Exporters Association, harga beras putih dari Thailand naik 5 persen atau naik menjadi USD 648 per ton (Rp 9,9 juta). Angka ini merupakan yang tertinggi sejak Oktober 2008.

Kenaikan harga beras ini terjadi setelah pengeskpor beras terbesar di dunia, India, mengumumkan larangan pengiriman non-basmati beras putih pada akhir Juli 2023. (Mia/Diah)